27.9.11

Puisi-puisi Ahmad Rosyadi

Puisi-puisi Ahmad Rosyadi alias Adis  ( Bali )


- Puisi Sejarah -

Terlahir, berproses
yang harusnya tercatat
Karena tak akan bisa disebut hidup
Jika tak pernah terlahir

Kita akan jadi pendahulu
Bagi orang-orang di masa datang
Seperti orang-orang yang terdahulu
sebelum kita ada

Catatlah apapun yang kita tahu hari ini
Semoga akan terkenang
Seperti kini kita mengenang masa lalu
Tentang semua pejuang
dan semua yang diperjuangkannya
yang mungkin tak pernah kita sadari
Dari berbagai latar belakang disiplin ilmu
Mereka berjuang dengan segala daya
yang pada akhirnya bisa kita pelajari
dan bisa kita rasakan nikmatnya

Meski sejarah bukan cuma untuk dikenang
Karena sejarah adalah pelajaran
dari sejarah, kita bisa tahu
Proses sesuatu menjadi sesuatu
Proses Apa menjadi apa
Tanpa sejarah yang panjang,
kita tak akan pernah tiba di sini
tanpa sejarah kita juga tak akan ada
Sebagai apapun kita kini.


Rosyadi (Museum Bank Mandiri) 12-Juli-2005
Dibuat untuk semua




-Kesimpulan-

memotong cerita
membuat arti dan makna

aku rindu pada kenangan yang membiru
yang semoga dapat membentangkan – benang
antara aku dan kamu
degub jantung berlomba
berkejaran untuk saling mengucap kata
“Hai...”
lalu kita jadi batu
yang menggelinding
kemasa lalu

aku menulis semua nama
dan aku ingin kamu yang terakhir
akan kupandu memasuki sebuah buku
yang juga berisi terang-redup hidupku
takan kubiarkan seorangpun tau, juga kamu
kamu ada disini bersamaku
walaupun hanya sekedar nama.

25 April 07



- Melaut -

Tidakkah kau lihat apa yang kupandang
Garam mencair berwarna biru
bendera-bendera dinaikan
Sruling mulai dihembuskan dari buritan

Aku berdiri di ujung haluan mencari tepian
Aku ingin engkau diseberang sana
Menantiku dengan sebuah “puisi”
Yang merangkum rindu berhari, dalam dada
29april07


Wahai kamu…
Puisiku yang terlahir dari mimpi purba
Yang berkelebat dikesunyianku
Tuk kembali kembangkan
Harapan yang sekarat
Melecut asaku
Menyengat diam jantungku
Untuk kembali berdetak
9mei07/19:33:46



diA dan nyA, tercipta tak terlahir lagi
nyA disalib luka
diA ditemani lara
melecut seliar mabuk, memaki segeram dendam
keduanya masuk kedalam kasta
lalu terhina kerdil
diA dan nyA ditakdirkan bertemu satu
bergumul lalu terbelah guilotine
dipencar badai, berjuta musim lebih

nyA dari selatan berteriak melengking
gema memanggil mencari diA
menangis dibawa berlari
sementara diA di utara menyambut
mendengar nyAnyian rindu di kesepian jiwanyA

aku terkesima memungut cerita terbungkus
sesobek kertas kucal yang berpuisi tentang “diA dan nyA”
dipojok kanan bawah tertulis
“dari sebelum kita mengenal tanggal, bulan dan tahun” nn.
Kita telah belajar baik-buruk, senang-susah
Serta air mata yang untuk pertama kalinya
Menjadi sungai dan telaga
Aku bertanya, benarkah kita telah belajar?

30mei07
Edit, 2juni07




----------------------------------------------------
ooOOO Pakaian Lebaran OOOoo

Lipatan kain kenangan yang berkerut hampir lusuh
lembab dihujani merah-marah yang tercurahkan
terajut sudah jadi pakaian lebaran

percayalah akan tetap kukenakan sebagai pakaian kebesaranku
aku akan setia menjadi tungganganmu
hingga sampai kau rebut kembali kekuasaanmu
yang pernah hilang oleh penghianatan

adis, sesetan-denpasar-bali 19 des 07

-----------------------------------------------------
ooOOO Kepalsuan OOOoo

Tidakkah kau ingat
begitu rapat kau tutup busuk
agar tak menyebar
kau beri aku warna-warni kembang plastik
kau coba membiusku dengan farfum kimiamu
kau coba rayu simpatiku
dengan membisikan lembut ditelingaku
         "aku adalah korban kepalsuan"

adis, sesetan-denpasar-bali 19 des 07


------------------------------------------------------


wie, terus lah berkarya, menulis apa saja....berjanjilah..aku mohon jika memang harus aku memohon.
waktu di laut aku berusaha menulis untuk mu hanya saja kondisi aku yang memang seperti ini


diantara bintang-bintang
     ada bulan setengah gobang
         tergantung diawang-awang

deru angin membawa khabar
        melintasi permukaan laut yang bergelombang
     menggigil sudah sukmaku mencari harapan
 pada sebuah titik cahaya di kejauhan
     pada langit-langit hati yang muram
      diantara buih-buih yang berpuisi


bujur 8.23-128 lintang selatan
15 april 08

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar